
Kenaikan harga sejumlah bahan pokok masih menjadi persoalan serius bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di berbagai daerah. Fluktuasi harga yang terus terjadi dari minggu ke minggu membuat para pelaku usaha kecil semakin kesulitan dalam mengatur biaya operasional sekaligus menjaga kestabilan harga jual kepada konsumen.
Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang dirilis melalui Katadata Insight Center, pada 20 Agustus 2025 tercatat bahwa harga pangan di Jawa Timur mengalami perubahan cukup signifikan. Dari total 23 komoditas pangan yang dipantau, 9 komoditas mengalami kenaikan harga, sementara 14 lainnya justru turun. Di antara yang naik, minyak goreng kemasan menjadi salah satu sorotan dengan harga yang kini mencapai Rp 19.827 per liter atau naik sekitar 0,6% dibandingkan hari sebelumnya. Gula konsumsi juga tercatat mengalami peningkatan, meski relatif tipis, yakni berada di kisaran Rp 16.561 per kilogram atau naik 0,08%. Di sisi lain, sejumlah komoditas penting lain seperti beras premium, beras medium, beras SPHP, cabai merah keriting, hingga telur ayam ras justru mengalami penurunan harga dengan kisaran antara 0,3% hingga 2%.
Situasi berbeda tampak di DKI Jakarta pada hari yang sama. Data Bapanas mencatat bahwa di ibu kota, justru terdapat 14 komoditas yang mengalami kenaikan harga. Minyak goreng kemasan, misalnya, naik hingga 1,0% menjadi Rp 21.091 per liter, sementara minyak goreng curah melonjak lebih tinggi, yakni sekitar 2,22% ke level Rp 19.500 per liter. Kenaikan paling signifikan terjadi pada daging ayam ras, yang kini mencapai Rp 37.857 per kilogram setelah naik sekitar 3,54%. Meski demikian, tidak semua komoditas bergerak naik. Beberapa bahan pangan seperti beras premium, cabai merah besar, bawang merah, serta garam konsumsi justru mengalami penurunan harga dalam periode yang sama.
Dampak bagi UMKM
Fluktuasi harga pangan ini bukan hanya angka statistik semata, melainkan langsung terasa pada aktivitas ekonomi sehari-hari pelaku UMKM. Menurut penelitian dari Kementerian Koperasi dan UKM, lebih dari 60% UMKM di Indonesia mengalami penurunan omzet akibat melemahnya daya beli masyarakat yang dipicu kenaikan harga bahan pokok. Hal ini sangat terasa pada sektor-sektor yang mengandalkan bahan baku pangan sebagai komponen utama produksi, seperti usaha kuliner, warung makan, katering, maupun pedagang makanan ringan.
Seorang pemilik warung makan di kawasan Bekasi yang diwawancarai media nasional beberapa waktu lalu menuturkan bahwa biaya operasional hariannya melonjak tajam, sementara pelanggan enggan menerima kenaikan harga yang terlalu tinggi. Akibatnya, margin keuntungan yang didapat semakin tipis dan risiko kerugian meningkat. Fenomena serupa terjadi di banyak wilayah, di mana pelaku usaha mikro harus pintar-pintar menyesuaikan harga, mengatur stok, dan menekan biaya produksi, meskipun fleksibilitas mereka jauh lebih terbatas dibandingkan pelaku usaha besar.
Analisis dan Ancaman Jangka Panjang
Menurut sejumlah akademisi dan pengamat ekonomi, fluktuasi harga bahan pokok seperti yang terjadi saat ini dapat menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan UMKM. Pasalnya, biaya produksi yang meningkat secara langsung menaikkan harga pokok penjualan (HPP). Sementara itu, kemampuan UMKM untuk menaikkan harga jual terbatas karena sensitifnya daya beli konsumen kelas menengah bawah yang menjadi pasar utama mereka. Jika tren ini berlanjut dalam jangka panjang, UMKM berisiko mengalami penurunan kapasitas produksi, berkurangnya tenaga kerja, bahkan potensi tutup usaha.
Digitalisasi Sebagai Jalan Keluar
Meski demikian, di tengah tantangan tersebut, digitalisasi menawarkan peluang yang bisa membantu UMKM lebih efisien. Platform belanja grosir daring seperti MPStore hadir sebagai solusi praktis untuk mendapatkan bahan baku langsung dari distributor resmi dengan harga yang lebih stabil dan transparan. Dengan sistem digital, pelaku usaha tidak hanya bisa menghemat biaya distribusi dan belanja, tetapi juga memperoleh kemudahan lain seperti pembayaran tagihan, pembelian pulsa, hingga layanan keuangan melalui fitur Mini ATM.
Penggunaan platform semacam ini diharapkan mampu menekan biaya operasional UMKM, sehingga pelaku usaha dapat tetap fokus pada peningkatan kualitas produk dan layanan kepada pelanggan. Lebih jauh lagi, integrasi digital juga bisa membuka akses ke jaringan distribusi yang lebih luas, memungkinkan UMKM bersaing lebih sehat di tengah gejolak harga bahan pokok.









